Tuesday, February 16, 2010

Bedah Peminatan Jurnalistik atau Strategis

Bedah Peminatan
“Jurnalistik atau Komunikasi Strategis?”


Kamis, 18 Februari 2010, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Komunikasi FISIP Undip akan menyelenggarakan Bedah Peminatan “Jurnalistik atau Komunikasi Strategis?”. Acara ini akan diselenggarakan di gedung perpustakaan FISIP Undip mulai pukul 09.00 WIB. Hadir sebagai pembicara antara lain Dr. Turnomo Rahardjo yang merupakan Kepala Jurusan dan dosen Ilmu Komunikasi FISIP Undip, Nurul Hasfi, M.Si., Yanuar Luqman, M.Si., dan Dr. Drs. Hedi Pudjo Santosa, M.Si.

Ketua panitia, Yunda Nuraga, mengatakan “Event ini diselenggarakan dengan tujuan memberikan gambaran bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip, khususnya mahasiswa angkatan 2008 dan 2009, mengenai peminatan yang akan diambil setelah mereka memasuki semester ke empat.” Sangat diharapkan, setelah diadakannya acara ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP Undip tidak mengalami kebingungan lagi dalam memilih peminatan yang sesuai dengan kapasitas dirinya.

Saturday, February 13, 2010

Opini Publik Terbentuk Dalam Debat Publik Media Massa


OPINI PUBLIK TERBENTUK DALAM DEBAT PUBLIK
YANG DIJALANKAN MEDIA MASSA


Oleh: Rahmatul Furqan*
Peran strategis media massa semakin tidak diragukan lagi. Berbagai fakta menunjukan betapa besar pengaruh media bagi masyarakat. Sebut saja beberapa kasus yang ramai diangkat di media massa belakangan ini seperti, kasus hukum yang dialami Prita, kasus Cicak Vs Buaya, sampai pada kasus yang lagi hangat-hangatnya dibicarakan yaitu, kasus Artalita yang mendapat perlakuan istimewa dalam tahanan. Semua kasus-kasus tersebut mendadak menjadi perhatian dan mendapat respon yang luar biasa dari masyarakat semenjak diangkat oleh media massa. Prita misalnya yang berhasil memperoleh dukungan koin bernilai puluhan juta rupiah hasil dari simpatisan masyarakat, kemudian Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang berhasil mendapatkan dukungan dari ribuan pengguna situs jejaring. Semua respon tersebut muncul akibat pengaruh besar oleh media yang memiliki kekuatan untuk membentuk opini publik. Sesuatu yang semula tidak diketahui atau tidak diperhatikan dapat menjadi hal yang luar biasa ketika diinformasikan oleh media.
Tentunya, sebagai wahana yang diharapkan mampu menjadi ruang publik yang baik bagi masyarakat, media massa tidak sebatas berfungsi sebagai penyaji informasi. Namun, media massa juga diharapkan mampu menjadi wadah bagi masyarakat umum untuk menyalurkan aspirasi, ide dan gagasannya. Hal ini sesuai dengan konsep media sebagai ruang publik yang dicetuskan oleh Habermas. Sebagai ruang publik, media massa seharusnya memberikan warga negara tempat yang terhormat, bukan hanya dipandang sebagai konsumen belaka yang hanya menerima informasi yang disuguhkan. Media massa harus mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk berpendapat. Masyarakat tidak hanya sebatas mendengarkan tapi juga ikut berbicara, ikut berdebat. Jadi, media dituntut mampu memberikan ruang yang lebih bagi warga negara agar dapat saling berargumentasi tentang berbagai masalah yang terkait dengan kehidupan publik dan kebaikan bersama sehingga opini publik dapat terbentuk.
Opini publik sendiri dalam hal ini merupakan suara masyarakat umum yang menjadi arus wacana publik. Opini publik dibentuk dalam debat publik dimana terjadi pertukaran argumentasi atau saling mengkritisi. Dulunya, debat publik sering kali dilakukan di kedai-kedai minuman. Namun, seiring dengan kemajuan dan perkembangan teknologi informasi, media massa pun menjadi wadah yang diharapkan mampu menampung debat publik. Jadi sekarang ini, opini publik itu sendiri lahir dari debat publik yang dijalankan oleh media massa. Penting bagi media massa untuk menyiapkan ruang yang sebesar-besarnya untuk memfasilitasi debat publik yang terjadi. Sehingga semua aspirasi golongan masyarakat dapat ditampung. Jadi, debat publik mengangkat berbagai aspirasi atau adu argumentasi antara berbagai kaum dan golongan. Tak peduli itu pendapat dari golongan minoritas ataupun mayoritas, tak peduli dari kaum bermodal atau pun tak bermodal. Untuk menjalankan debat publik yang baik, media massa harus memberikan ruang yang sama besarnya bagi semua pihak untuk mengungkapkan aspirasinya sehingga terjadi adu argumentasi yang seimbang.
Dengan adanya kesetaraan suara atau ruang yang diperoleh di media massa maka akan menjamin lahirnya demokrasi yang baik dan ujungnya akan membentuk opini publik itu sendiri. Sesuai dengan prinsip dasar dari demokrasi itu sendiri bahwa, kekuasaan tertinggi ada ditangan rakyat atau publik. Maka untuk menjamin berjalannya sistem demokrasi yang baik, opini publik harus didengarkan dan diperhitungkan. Itulah mengapa, media memegang peranan strategis yang diharapkan mampu menjalankan debat publik sehingga mampu membentuk opini publik yang akan berujung pada demokratisasi yang lebih mapan. Pada akhirnya, opini publik yang lahir dari debat publik dalam media tersebut akan menunjang kepentingan publik, menegakan keadilan, dan kebenaran.
Pertanyaannya, sejauh mana media sekarang ini telah memberikan ruang bagi berjalannya debat publik? Jika kita memperhatikan ruang yang diberikan oleh media massa saat ini, media tampak belum maksimal menjalankan fungsinya untuk membentuk opini publik. Industri media masih terikat oleh struktur pasar yang hanya menguntungkan para pemilik modal. Semakin banyak modal yang dimiliki seseorang atau suatu golongan, maka semakin luas ruang yang ia dapatkan. Dalam hal ini, kesetaraan atau kesamaan hak bersuara tidak diberikan oleh media. Bisa dilihat dengan jelas, media seringkali memihak dalam sebuah pemberitaan hanya untuk membela kepentingan pihak atau golongan tertentu.
Faktanya, beberapa media massa ada yang dibawah kekuasaan pemain dalam dunia perpolitikan. Bisa kita lihat dalam pemilu kemarin, tiap media menunjukan ketidakadilan dan memberikan ruang yang berbeda bagi tiap tokoh politik untuk berkempanye. Masing-masing media mencoba menciptakan gambaran positif tentang tokoh politik yang menguasainya dan menjelek-jelekkan tokoh lawan. Setiap tokoh politik yang mampu membayar lebih, maka akan mendapatkan ruang yang lebih banyak untuk berkempanye. Sehingga yang terjadi adalah media tidak lagi menjadi ruang publik yang baik, yang memberikan kesempatan yang sama atau one person one voice, melainkan menjadi one dollar one voice.
Karena berorientasi pada kapital dan masih dibawah kekuasaan atau kontrol pemilik media, media sendiri mulai menseleksi informasi yang muncul, informasi yang dirujukan berdasarkan kepentingan sebagai entitas bisnis atau politik. Hanya informasi yang mendukung keberlangsungan usahanya yang akan ditampung. Lebih dari itu, media kini hanya memberikan ruang pada golongan mayoritas dan tidak mempedulikan pendapat kaum minoritas. Apa yang menjadi kepentingan mayoritas, itu yang akan dibahas sebab dengan itu media akan memperoleh khalayak yang tinggi dan pada akhirnya mendapat keuntungan yang tinggi pula. Golongan-golongan minoritas seolah tidak lagi terdengar suaranya. Media tidak memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk berpendapat dan memberikan argument mereka. Sebut saja beberapa contoh golongan minoritas seperti, kaum penyimpangan sexual ataupun atheist. Opini dari kaum-kaum tersebut sangat jarang didengar di media masa. Golongan minoritas tidak diberikan ruang yang sama untuk bersuara. Sehingga golongan minoritas pun selalu menjadi golongan yang kalah dan tertindas
Dengan ini, harus diakui bahwa sebenarnya industri media tidak lagi melihat masyarakat sebagai citizen melainkan sebagai consumers atau target pasar. Masyarakat tidak lagi dianggap sebagai warga negara yang memiliki hak untuk bersuara. Warga negara dilihat sebagai obyek pasif yang dapat diubah dan dibentuk oleh media itu sendiri. Media masa dimaksudkan untuk mewujudkan kepentingan para kaum kapitalis yang sekaligus merupakan penguasa. Apa yang dilakukan oleh media hanyalah sebatas untuk memperoleh keuntungan bukan lagi sebagai ruang yang menjalankan debat publik. Alih-alih menjadi ruang bagi partisipasi masyarakat di dalam debat publik, media telah bertransformasi menjadi ruang iklan, dimana politisi dapat menjual ide-ide mereka untuk dibeli oleh rakyat. Pada akhirnya, kaum kapitalislah yang paling diuntungkan. Penguasa pasarlah yang memperoleh keuntungan dari media masa.
Pada tahap ini, masyarakat tidak lagi dapat berharap banyak dari media masa. Debat publik yang diharapkan dapat berjalan melalui media masa semakin terkikis oleh kepentingan kaum kapitalisme. Tiap ruang di media masa telah dijual demi mendapat keuntungan. Rubrik-rubrik yang seharusnya menjadi wadah untuk menampung aspirasi masyrakat justru telah dijual menjadi “kolom iklan”. Dalam artian, media masa tidak lagi mempedulikan kepentingan demokrasi karena sibuk mengejar keuntungan.
Sudah tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana media masa sekarang ini tidak mampu menampung pemberitaan secara berimbang. Kaum bermodal dan tak bermodal diberikan ruang tidak sama besarnya. Begitupun dengan kaum minoritas dan mayoritas. Dapat dipastikan bahwa debat publik yang diharapkan dapat dijalankan oleh media massa semakin tidak sesuai harapan. Ketika tiap individu ataupun golongan tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mencurahkan ide dan argumentnya maka tidak mungkin debat publik yang baik dapat terjadi. Sebab sekali lagi, debat publik merupakan adu pendapat antara individu ataupun golongan mengenai berbagai masalah-masalah politik dengan tujuan untuk mencari hasil terbaik dan mengejar kepentingan bagi publik. Namun, ketika tidak semua individu atau pun golongan memperoleh ruang dan kesempatan yang sama, maka bagaimana mungkin debat publik itu dapat dikatakan sebagai debat yang sehat dan berimbang.
Lantas melihat realitas dalam media masa kita sekarang, pertanyaanya yang kembali muncul adalah masih dapatkah opini publik terbentuk melalui media masa? Seperti yang dijelaskan sebelumnya, opini publik itu sendiri seharusnya lahir dari debat publik yang pada akhirnya akan menempatkan kepentingan publik di atas segala-galanya. Ketika kita melihat bahwa media sekarang ini tidak beimbang dan tidak memberikan ruang yang pantas untuk menjalankan debat publik, maka opini seperti apa yang dihadirkan media? Sudah dapat ditebak, ketika debat publik tidak berjalan sebagaimana mestinya, ketika media mengalami keberpihakan pada golongan tertentu atau golongan bermodal, ketika golongan minoritas dan golongan yang tak bermodal tak lagi didengar, maka yang terbentuk bukanlah lagi opini publik melainkan penindasan. Kepentingan yang dibela oleh media massa bukanlah lagi kepentingan publik melainkan kepentingan individu atau golongan tertentu.
Dapat dikatakan bahwa media tidak lagi menjadi ruang untuk menampung opini publik melainkan telah bertransformasi menjadi wahana untuk merekayasa opini publik itu sendiri. Yang terjadi adalah pembentukan opini oleh media massa itu merupakan buah campur tangan dari para penguasa pasar. Opini publik bukanlah milik publik karena sudah dikuasai para elite media, politik, maupun ekonomi. Pihak atau pun golongan tertentu menguasi media massa dan mengejar keuntungan materi maupun menggunakan media untuk memperoleh kekuasaan.
Rekayasa terhadap opini publik semakin marak di media massa. Dengan mengatasnamakan membela kepentingan publik, media justru berusaha memperoleh keuntungan. Apa yang menjadi opini kaum kapitalis diangkat seolah-olah itulah opini publik. Padahal jelas, bahwa opini yang lahir dari media massa sekarang ini sering kali tidak membela kepentingan publik sebab tidak dibentuk oleh debat publik. Yang terjadi adalah monopoli dan manipulasi argumentasi. Debat publik yang diharapkan mampu menjadi ruang bagi tiap golongan justru hanya dikuasai oleh sebagian pihak dan opini yang terbentuk dimanipulasi seolah-olah memang opini publik yang membela kepentingan publik. Padahal jelas yang dibela adalah kepentingan golongan-golongan bermodal tadi. Pada akhirnya, apa yang ideal bagi para kapitalis akan dianggap ideal pula oleh masyarakat. Semuanya dimanipulasi sedemikian rupa oleh para kapitalis agar dapat mempengaruhi publik. Media massa justru menjadi alat bagi kaum kapitalis dan mencoba mempengaruhi masyarakat. Sehingga, lahirlah masyarakat konsumerisme.
Kondisi media massa yang telah bertransformasi membela kepentingan pasar ini menjadikan media massa dipandang sentiment oleh banyak pihak. Kegagalan media massa dalam menjalankan debat publik yang baik berdampak pada ketidakpercayaan beberapa orang terhadap informasi yang diberikan media. Pada akhirnya berujung pada tiada munculnya semangat kewarganegaraan (citizenship) di kalangan masyarakat. Seolah-olah warga negara di sini hanyalah kelas menengah yang beropini, selebihnya adalah rakyat biasa (people). Debat publik yang seharusnya dijalankan oleh media memiliki arti penting bagi warga negara untuk mewujudkan kepentingan bersama (publik) bukan hanya kepentingan beberapa pihak tertentu.
Seharusnya media massa di sini mulai memberikan ruang yang tepat bagi debat publik agar nantinya dapat tercapai keberlangsungan kepentingan publik. Media massa tidak boleh hanya memperjuangkan kebebasan untuk dirinya sendiri. Sebab, ada yang lebih tinggi nilainya dibanding kebebasan itu sendiri, yakni hati nurani. Bagaimana pun hati nurani akan memberikan pengaruh, sehingga hanya media yang mempunyai nuranilah yang bisa diterima oleh masyarakat. Sebaliknya, media yang cuma mengedepankan kebebasan secara alami akan menghadapi kendala dalam penerimaaan masyarakat dan akan ditinggalkan. Banyak bukti betapa sekarang beberapa masyarakat bahkan mulai kehilangan kepercayaan dan mulai meninggalkan media-media yang dianggap tidak mampu menghadirkan debat publik yang baik, atau yang dianggap hanya membela kepentinga pihak tertentu. Bisa dikatakan inilah mungkin salah satu penyebab mengapa masyarakat sekarang ini menaruh apresiasi yang lebih besar terhadap media baru (media internet) karena masyarakat menganggap internet mampu menjadi ruang publik yang lebih baik yang mampu menjadi wadah bagi jalannya debat publik.
Maka, demi mengembalikan nama baik media massa, terutama media konvensional, sudah selayaknya media mulai memberikan ruang yang lebih agar terciptanya debat publik yang baik. Media massa sudah seharusnya menjadi tempat bagi publik untuk menyampaikan opininya. Media massa harus mampu mengikis egoisme para pemilik modal agar lebih membela kepentingan publik hingga benar-benar terbentukanya opini publik yang membela kepentingan publik itu sendiri. Demi menyempurnakan demokrasi, setiap media sebaiknya lebih memberikan ruang bagi publik untuk beraspirasi, saling beradu argumentasi, dan pada akhirnya masyarakat kembali mendapatkan semangat kewarganegaraannya dan kembali bersemangat untuk mewujudkan kepentingan bersama.

* Penulis merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP-UNDIP 2008





DAFTAR PUSTAKA


Sudibyo, Agus. Kebebasan semu: Penjarahan Baru di Jagad Media. Penerbit buku Kompas: 2009
Kant, Immanuel. Ruang Publik Politis: Komunikasi Politis dalam Masyarakat Majemuk http://www.asmakmalaikat.com/go/artikel/komunikasi/kom1.htm.
(Tanggal Akses: Kamis, 14-01-2009)
Resmi,Rachmad. Menunggu Kematian Media.
http://rachmadresmi.blog.ugm.ac.id/?tag=media-massa (Tanggal Akses: Kamis, 14-01-2009)
Abdullah, Imaduddin. Peran Strategis Media Dalam Pembentukan Opini Publik. http://ppsdms.org/peran-strategis-media-dalam-pembentukan-opini-publik.htm
(Tanggal Akses: Kamis, 14-01-2009)
Darmawan, Aris. Ruang Publik,Milik Rakyat!
http://ruangpublik.blogspot.com/2007/06/ruang-publikmilik-rakyat.html
(Tanggal Akses: Jumat, 15-01-2009)




HMJ Ilmu Komunikasi FISIP Undip 2010


HMJ Ilmu Komunikasi
Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik
Universitas Diponegoro
Periode 2010




HMJ Komunikasi adalah Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi. Anggota HMJ Komunikasi adalah seluruh mahasiswa yang terdaftar sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Diponegoro. HMJ Komunikasi merupakan sebuah wadah bagi seluruh mahasiswa komunikasi untuk menyalurkan segala kreatifitas dan ide-ide yang bertujuan untuk memberikan sumbangan dan kontribusi demi kemajuan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Undip, khususnya jurusan Ilmu Komunikasi.

HMJ Komunikasi terdiri 6 derpartemen dan 7 badan semi otonom. Departemen tersebut adalah Departemen Komunikasi (eksternal, internal dan information technology (IT) ), Departemen Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM), Departemen Penelitian dan Pengembangan (LITBANG), Departemen Minat dan Bakat (seni dan olahraga), Departemen Pengabdian Masyarakat (DIMAS) dan Departemen Kreatif. Sementara itu badan semi otonom (BSO) tediri dari : DMW (Diponegoro Media Watch), Pioneer, Fokus, Cozy, IMIKI (Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia), dan Playon, CCC.

Visi:
”Menjadikan HMJ Ilmu Komunikasi Undip sebagai media berekspresi, berkreasi, dan mengembangkan diri seluruh elemen mahasiswa Ilmu Komunikasi Undip”

Misi:
• Menjadi organisasi yang solid dan bermakna bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi
• Membangun sinergi positif antarelemen Ilmu Komunikasi Undip
• Menciptakan iklim yang mendukung tumbuhnya insan Ilmu Komunikasi yang aktif, dinamis, kritis dan kreatif
• Meningkatkan citra dan reputasi Ilmu Komunikasi Undip melalui karya nyata yang cerdas dan kreatif
• Turut berperan aktif mewujudkan visi dan misi Jurusan Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Diponegoro



STRUKTUR PENGURUS
HMJ KOMUNIKASI 2010

Ketua : Ika R. Yustisia

Wakil Ketua : Reni Yunisa

Sekretaris : Wanti F

Bendahara : M. Ihsan

Departemen Komunikasi : Lailatun Ni’mah

· Eksternal : Sitaresmi P

· Internal : Gandhy N - Nisa T. H.

· IT : Rahmatul F

Departemen PSDM : Dani Marsa

· Penalaran : Nilna Rifda K.

· Kaderisasi : Nugraheni Y. N.

Departemen LITBANG : Nur Laili M

· Rika K

Departemen Minat Bakat : Agung Yulianto

· Olahraga : Taufik R.

· Seni : Okta A - Ginanjar S.

Departemen DIMAS : Isma Sakit H.

· Amri Z. N.

· Dena Adi S.

Departemen Kreatif : Yudhi Mulyadi

· Astri N. A.

· Ristania E.

Badan Semi Otonom (BSO)

DMW : Erva Maulita

Playon : Alif Ibrahim

CCC : Harlin Dyah N

COZY : M. Reza

IMIKI : Ade Ayu K

Pioneer : Eka Oktaviani

Fokus: Jaya Pramono A


Wednesday, February 3, 2010

American Universities as Hedge Funds?

We'd also like to direct your attention to the following story at Huffington Post by Bob Samuels: How America's Universities Became Hedge Funds. A few notable quotes:
When journalists asked the UC president, Mark Yudof, how the university could lend millions of dollars to the state, while the school was raising student fees (tuition), furloughing employees, canceling classes, and laying off teachers, Yudof responded that when the university lends money to the state, it turns a profit, but when it spends money on salaries for teachers, the money is lost....

To understand how both public and private research universities have gotten themselves into this mess, one needs to understand five inter-related factors: the state de-funding of public education, the emphasis on research over instruction, the move to high-risk investments, the development of a free market academic labor system, and the marketing of college admissions. These different forces have combined to turn universities into corporations centered on pleasing bond raters in order to get lower interest rates so that they can borrow more money to fund their unending expansion and escalating expenses.

Do go read the whole thing. David Swenson and others are implicated in this move, and many major universities, including the UC system, Harvard and Yale, are all doing the same stuff.

And as someone who is an alum of both Harvard and Yale, and a former organizer for Yale unions, I want to say the union movement at Yale was critical of Swenson's tactics from the beginning. From a Yale Alumni Magazine story in 2005:
Perhaps because Swensen prides himself on his integrity, he bristles when critics come after him. Student activists have accused Yale of investing in oil and timber operations that are environmentally irresponsible. Others, including a U.S. senator, blamed Yale for backing a hedge fund that planned to pump, export, and sell water in the San Luis Valley of Colorado. Yale's unions, in particular, have targeted the university, saying it is needlessly secretive about its investments. "They're doing a fabulous job of making money, but what are the social and environmental costs?" asks Ben Begleiter '04PhD, who works for the group that is trying to organize a graduate students' union. Two years ago during a union strike, eight retired employees seeking higher pension benefits occupied Swensen's office overnight. They refused to believe him when he tried to explain that he had no sway over their pensions.

Farallon is the hedge fund many universities use, and it is important to consider not only our own personal costs -- loss of raises, furloughs -- that have come from higher ed financial mismanagement, but the social costs. This is a report from 2005 sponsored by the Yale Unions showing Farallon's support of Corrections Corporation of America, the largest private prison company in the country. It details Farallon's relationship to CCA, but also the human rights abuses that occur within the CCA's prisons.

The BUNSIS report

If you would like to read the in-depth report on the overall health of the University of Illinois system, there is now a link to the pdf for you to read.

This study was commissioned by the UIC United Faculty Organizing Committee, the American Association of University Professors (AAUP), the American Federation of Teachers (AFT) and the Illinois Federation of Teachers (IFT). It has somewhat more detail about UIC finances because it was commissioned on our Chicago campus. The study was prepared by the AAUP's national treasurer, an elected office held by Howard Bunsis of Eastern Michigan University. Dr. Bunsis has a law degree and a PhD in accounting. He specializes in analyzing university finances.

What do we do with 'furlough' days?

Organize! Many colleagues report being pressured to schedule phony "furlough" day in advance. Well, your union - the Campus Faculty Association - is calling for "common furlough days" to demonstrate the impact of these ill-conceived cuts to the University's core mission of education and research - and to use the day for a different kind of service (than the kind Administrators would choose) to that core mission: to fight for it, as only the people who get this job done every day can.

So, mark your calendars:
  • Feb. 15
  • March 4
  • April 6
  • April 21

There will be a planning meeting on Feb. 9 (see previous post below) for all concerned faculty to discuss these and other actions through which faculty at UIUC can begin to take back some influence over the running of the University.

Tues. Feb. 9
7-9pm
University YMCA
Lower Level, Rooms K-1 & K-2

This meeting is open to anyone who cares about the core mission of the University and wants to work together to improve it, resist these shortsighted cuts, and reclaim the excellence that the University of Illinois community prides itself on. But it is NOT FREE! If you attend, you will be expected to engage, participate, and give of your time and energy, your '2 c', yourself.

Please come and bring a friend - or two - or three ...